Kamis, 23 Desember 2010

MEMBUDAYAKAN BACA KORAN


Tanggal 10 Februari yang lalu Presiden Soesilo Bambang Yudoyono pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) mencanangkan gerakan baca koran. Seruan ini tentu memiliki korelasi yang positif dengan dunia pendidikan terutama sekolah. Bagaimana peranan guru dalam mendorong upaya gerakan tersebut di sekolah? sejauh mana pula kebiasaan para guru dalam membaca koran dan kemudian menularkannya kepada anak didik?
Setiap sekolah pasti berlangganan satu atau dua buah koran. Paling tidak koran “Pikiran Rakyat” setiap hari hadir di ruang guru atau perpustakaan sekolah di Jawa Barat. Namun, apakah dengan hadirnya media bacaan tersebut budaya membaca koran kemudian tumbuh subur di sekolah? Belum tentu. Selama pemahaman dan penilaian guru akan kebutuhan untuk membaca koran belum tepat maka budaya membaca tidak akan pernah hadir di sekolah.
Berdasarkan observasi sederhana penulis ternyata mayoritas guru lebih banyak menghabiskan waktunya, di luar jam mengajar, untuk ngobrol dan menggosip dibandingkan menambah wawasan dengan membaca koran. Mereka beranggapan bahwa berita yang disajikan koran tidak ada bedanya dengan berita yang disiarkan media televisi. Seringkali berita dari televisi lebih cepat dibandingkan koran. Tidak aneh bila kemudian di sekolah koran jarang disentuh, tergeletak begitu saja di atas meja di antara tumpukan buku.
Bahan ajar
Sejatinya koran bukan sekedar media pemberitaan. Di dalamnya juga terdapat berbagai rubrik yang berkaitan dengan dunia pendidikan yang bisa dijadikan sebagai bahan ajar tambahan selain buku daras dan buku LKS (Lembar Kerja Siswa). Bukan hanya mata pelajaran bahasa Indonesia, koran pun bisa menjadi bahan ajar semua mata pelajaran.
Koran bisa dijadikan sebagai bahan penjelasan, keterangan tambahan maupun contoh materi pelajaran. Selain tentang ilmu-ilmu sosial koran memberikan wawasan tentang ilmu-ilmu alam. Contohnya “Pikiran Rakyat” memiliki rubrik “Cakrawala” yang membahas perkembangan sains. Bila guru membiasakan diri membaca koran wawasan mereka akan bertambah, bahan ajar pun semakin melimpah serta semakin mudah untuk disampaikan kepada siswanya di sekolah.
Menyebarkan budaya membaca
Tatkala harga buku saat ini semakin mahal, koran menjadi media bacaan alternatif yang murah meriah. Guru bisa menyebarkan budaya membaca kepada siswa dengan pemberian tugas untuk mengkliping koran tentang tema tertentu sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Dengan begitu siswa terbiasa dengan koran yang selanjutnya mereka menjadi antusias untuk terus membaca.
Namun tentu saja sekolah perlu menyediakan koran yang jumlahnya sesuai dengan rasio guru dan siswa. Tentu tidak sepadan satu koran dibaca oleh 500 orang di satu sekolah. Paling tidak setiap sekolah memiliki langganan beberapa koran nasional dan koran daerah. Dengan ketersediaan yang relatif banyak maka tidak ada alasan bagi guru dan siswa untuk tidak bisa membaca koran karena harus berebutan.
Bagi sekolah yang sudah tersambung dengan internet, budaya membaca koran bisa semakin ditingkatkan. Saat ini beberapa koran daerah maupun nasional telah menyediakan edisi online di samping edisi cetak. Misalnya “Pikiran rakyat” memiliki edisi online dengan alamat http://www.pikiran-rakyat.com. Melalui internet, guru dan siswa bisa mengakses seluruh berita dan tulisan yang disajikan termasuk koran yang berasal dari daerah lain atau juga dari luar negeri.
Terakhir, yang paling penting dalam rangka mendorong budaya membaca koran adalah budaya menulis. Kemampuan menulis di koran tidak akan muncul tanpa diawali budaya membaca. “PR” termasuk pelopor dalam mendorong budaya ini. Lihat saja kolom “Forum Guru” yang disediakan khusus untuk tulisan para guru. Siswa SMP/SMU rubrik “belia” disediakan untuk menampung tulisan dan kreativitas mereka. Tak ketinggalan anak TK/SD memiliki “Pe Er Kecil”. Semakin sering guru dan siswa menulis di koran, maka budaya membaca koran pun akan semakin meningkat, paling tidak ingin mengetahui apakah tulisannya dimuat atau tidak.
Gerakan baca koran ini perlu terus digalakkan dengan upaya bahu membahu berbagai kalangan termasuk para guru yang bergerak di dunia pendidikan.


orientasi pemanfaatan jardiknas


BALI - Pustekkom Kemdiknas dan Dinas Pendidikan Provinsi Bali menyelenggarakan kegiatan Orientasi Pemanfaatan Jardiknas Zona Perguruan Tinggi (PT) dan Zona Kantor 2010 di Inna Grand Bali Beach Hotel pada tanggal 3 s.d. 5 November 2010. Kegiatan orientasi diarahkan dan dibuka secara resmi oleh Bapak Herwindo (Staf Ahli Mendiknas bidang Iptek) ini dihadiri oleh 30 pengelola node Jardiknas Zona PT (Inherent) dan 37 pengelola Jardiknas Zona Kantor yang berasal dari dinas-dinas pendidikan kabupaten/kota di provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan Orientasi Pemanfaatan Jardiknas Zona PT dan Zona Kantor di Denpasar ini bertujuan untuk: 1) mensosialisasikan kebijakan TIK untuk pendidikan, 2) mengoptimalkan sistem pengendalian implem entasi Jardiknas Zona PT dan Zona Kantor, 3) mendapatkan data dan informasi tentang progres integrasi jaringan Zona PT dalam upaya mencari solusi terbaik untuk mengatasi hambatan yang terjadi dalam pengelolaan jardiknas pada Zona PT, 4) merumuskan mekanisme pengelolaan dan monitoring Jardiknas Zona Kantor dan Zona PT yang lebih efektif dan efisien, 5) merumuskan pemanfaatan dan pengembangan konten Jardiknas Zona PT dan Zona Kantor, dan 6) mengkoordinasikan rencana pengembangan dan pemanfaatan Jardiknas.

Pada sesi Pemanfaatan Jardiknas Zona PT dan Zona Kantor, narasumber menghimbau – seiring reformasi birokrasi di tubuh Kemdiknas – kepada pengelola Jardiknas Zona PT agar memanfaatkan fasilitas bandwidth Jardiknas untuk mendukung layanan primanya kepada mahasiswa, dosen, fakultas, dan penelitian serta pengembangan. Adapun kepada pengelola Jardiknas Zona Kantor dihimbau agar fasilitas bandwidth Jardiknas dimanfaatkan untuk mendukung layanan primanya kepada siswa, guru, sekolah, dan sistem informasi manajemen di dinas pendidikan kabupaten/kota.

Senin, 20 Desember 2010

kebijakan dan strategi pengembangan

kebijakan dan strategi pengembangan

Pendahuluan

Secara umum, pembangunan di bidang komunikasi dan informatika, terutama Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu aspek penting yang mendorong pembangunan nasional. Selain menjadi faktor produksi dan ekonomi, TIK juga berperan sebagai enabler dalam perubahan sosial budaya kemasyarakatan di berbagai aspek. Aspek-aspek yang dimaksud seperti pengembangan kehidupan politik yang lebih demokratis, pengembangan budaya dan pendidikan, dan peningkatan kapasitas governance di berbagai sektor pembangunan. Perkembangan TIK menyebabkan terciptanya l
alu lintas informasi dan komunikasi bebas hambatan antar Negara dan wilayah. Dengan kata lain, keberadaan TIK mampu menghilangkan berbagai hambatan geografis sehingga terjadi transformasi pola hidup manusia di berbagai bidang menuju masyarakat berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge-based society. Manfaat keberadaan TIK bagi bangsa Indonesia adalah :

1. Mendukung perbaikan keamanan dan mempercepat perkembangan kesejahteraan sosial aadan ekonomi
2. Mengatasi berbagai kesenjangan antara pusat dan daerah dalam mendukung suatu AAsis­tem yang lebih adil dan makmur
3. Meningkatkan akses informasi dan pengetahuan
4. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (human capacity building)
5. Mendukung proses demokrasi dan transparansi birokrasi
6. Membentuk masyarakat informasi (knowledge-based society)

Dengan melihat betapa pentingnya keberadaan TIK, maka suatu awal yang tepat dengan